in , ,

Harlah NU ke- 95: Menyelami Hikmah berorganisasi dari KH. Wahab Chasbullah

Harlah NU ke- 95: Menyelami Hikmah berorganisasi dari KH. Wahab Chasbullah

Oleh: Aceng Ahmad Sihabuddin, S. Hum**

Sepak terjang KH Wahab Hasbullah dalam memperjuangkan kemerdekaan terukir kuat dalam catatan sejarah bangsa ini, tak heran jika beliau diberi gelar kepahlawanan oleh negara. Karena sumbangsih beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini sangat banyak, mulai dari pemikiran, aktifitas organisasi, atau mungkin juga melalui perlawanan secara fisik melawan penjajah demi tercapainya kemerdekaan bangsa Indonesia.

Realitas dan rasa keterjajahan yang dialami oleh Kyai Wahab ataupun oleh masyarakat Hindia Belanda pada waktu itu menjadi pemicu perlawanan KH. Wahab Chasbullah kepada Belanda atau Penjajah. Oleh karenanya beliau sembari menuntut ilmu di Mekkah terus memikirkan strategi mengusir penjajah dengan berproses di berbagai wadah organisasi. sebelum menciptakan lagu/syair Syubbanul Wathan yang hari ini menjadi mars kebanggaan Nahdlatul Ulama yang bernafaskan nasionalisme, Mbah Wahab sudah terjun ke berbagai organisasi, beliau sempat mendirikan sebuah cabang SI Makkah sebelum kembali ke tanah air.

Sepulangnya dari Makkah itulah Mbah Wahab terdorong bahwa dirinya harus
berjuang melawan penjajah, karena melihat bangsa Indonesia pada masa dulu
hancur luluh lantak karena kejahatan kemanusiaan penjajah yang tak segan-segan menghabisi orang-orang pribumi. Lewat pergerakan organisasi yang digeluti beliau pertama masuk dilingkungan SI (Serikat Islam), setelah itu mendirikan Tashwirul Afkar, Nadhlatul Wathan, dan yang terakhir menggagas berdirinya NU.

KH Wahab Chasbullah merupakan kiai yang menyukai perjuangan melalui organisasi.
Dapat dikatakan petuah sahabat Nabi Muhammad Saw., Ali Karramallah Wajhah yang berbunyi, “Kebenaran yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh kehajatan yang terorganisasi.” yang menjadi landasan beliau berorganisasi dalam pergerakannya. Hal ini dibuktikan oleh beliau setelah pulang dari Makkah. Beliau segera membentuk organisasi lagi, begitulah kiprah Mbah Wahab di ranah organisasi.
Sudah sangat jelas bahwa organisasi sangat melekat dengan gerakan beliau bahkan hingga sebuah organisasi pemikiran (Nahdlatul Fikri) .

Meskipun tidak sendiri dalam membangun rumah untuk menaungi kalangan muda agar berwawasan luas dan sadar akan pentingnya ilmu dan membela martabat bangsa dari tekanan penjajah, kita harus menyadari bahwa perjuangan beliau itu sangat massif dan terstruktur dan pondasi rumah itu sudah kokoh dan siap untuk menampung anak-anak muda terutama dari kalangan santri-santrinya. Dari sanalah Mbah Wahab mendoktrin santri-santrinya untuk berjuang dan melawan penjajah agar tidak menjadi masyarakat yang berjiwa inlander.

Maksud dari tidak boleh berjiwa inlander dalam konteks bernegara hari ini, kita merasa nyaman dan aman dengan keadaaan saat ini, padahal jika kita membuka mata lebih luas, mendengar lebih serius, masyarakat secara luas sedang terjajah oleh sistem yang hanya memihak kaum kapitalis. seperti sistem pendidikan yang tidak merata, akses kesehatan yang masih berpihak hanya untuk masyarakat berduit, hingga akses ekonomi yang masih saja mengutamakan kaum- kaum bermodal.

Hal ini pun sejatinya harus kita refleksikan bersama-sama. Khususnya warga nahdliyin sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan mancanegara? . Kualitas organisasi kita apakah selaras dengan kuantitas kita atau kita yang mayor ini masih menikmati jiwa inlander dan nyaman dengan posisi dijajah secara sistem. Melalui berbagai badan otonomi organisasi yang jumlahnya fantastis dengan bidangnya masing-masing seharusnya sudah selesai semua persoalan yang ada di akar rumput masyarakat. Lantas apa yang menjadi permasalahan organisasi kita ini?

Dengan usia yang sangat matang genap 95 tahun atau hampir 1 Abad. Sudah sejatinya bukan lagi persoalan basis kader yang diurus. Komitmen Kebangsaan NKRI harga mati harus benar- bener terimplementasikan Dalam bentuk keberpihakan terhadap masyarakat lebih luas khususnys kaum Mustad’afin. Bentuk nyatanya tentu saja banyak cara, seperti lembaga atau kebijkaan konstitusional dengan mengirimkan kader terbaik yang mafhum atau memiliki keahlian bidang itu untuk maju sebagai pemangku kebijakan atau bagian dari lembaga sehingga melahirkan kebijakan yang berpihak untuk kaum miskin, maupun melalui basis kultur melalui jaringan kader-kader di kampung untuk merajut kembali gotong royong dan masih banyak lagi. Tentu saja kedua jalan tersebut memiliki nilai kemuliaan yang sama.

Maksud penulis bukan menyangsikan bakti NU selama 95 tahun, sudah banyak karya NU untuk negeri ini, namun penguatan dan massif nya menjaga NKRI sudah harus lebih tersistematisasi serta terukur agar semakin baik dan besar dampak positif untuk negara tercinta ini.

Sumber:

Chalik, Abdul. Nahdlatul Ulama dan Geopolitik; Perubahan Dan Kesinambungan.
Yogyakarta: Kanisius, 2011. Esha, Muhammad In’am. NU Di Tengah Globalisasi;
Kritik, Solusi Dan Aksi.
Malang: UIN-MALIKI PRESS. Halim, Abdul. Sejarah Kyai Haji Abdul Wahab
(NU). Bandung: Percetakan Baru, 1970.
Sejarah di Balik Lahirnya Lagu Kebangsaan Yaa Lal Wathan, www.nu.or.id,Jumat, 09 September 2016, 5 Desember 2019.
Yaa Lal Wathan Lagu Patriotis karya KH. Wahab Hasbullah, www.nu.or.id, Ahad,
17 Agustus 2014, 28 Desember 2018.

**penulis merupakan Ketua Cabang PMII Sumedang masa khidmat 2019-2021, penulis dapat dihubungi melalui akun instagram @aceng1321

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0
Menjemput Satu Abad NU: Tantangan dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Menjemput Satu Abad NU: Tantangan dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Harapan Presiden RI dan Ketua KPK dalam Harlah NU ke-95

Harapan Presiden RI dan Ketua KPK dalam Harlah NU ke-95