in ,

Kongres PMII dan Dinamikanya

Kongres PMII dan Dinamikanya

Oleh : Murdianto Annawi**

PMII, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia saat ini sedang menjalankan gawe Kongres XX di Balikpapan. Setelah tertunda sekian waktu akibat Pandemi Covid 19 akhirnya Kongres digelar dengan penuh pembatasan disana sini. Terkait dinamika Kongres, saya pertama kali merasakan langsung atmosfir dinamika Kongres saat tahun 2000 di Medan Sumatera Utara, tepatnya di Asrama Haji Medan. Pengalaman saya kali ini sebagai delegasi resmi, bukan Romli. Romli adalah bahasa keren untuk para penggembira alias Rombongan Liar. Perjalanan untuk sampai di lokasi Kongres cukup melelahkan. Perjalanan darat dari Jawa Timur hingga Medan dengan berbagai cerita.

Bagian penting Kongres yang saya alami adalah penetapan Paradigma Kritis Transformatif sebagai Paradigma PMII dalam Anggaran Dasar. Meskipun jika direnungkan, suatu pisau analisis yang mengusung corak pemikiran dan sikap kritis, dan tindakan transformatif, akan dibakukan menjadi produk AD ART justru mengandung dilema. Bukankah kritisisme, selalu membuka yang dinamis, bukan justru pembakuan kaidah? Zaman yang akan mengujinya.

Hasil lain yang cukup ‘menyakitkan’ sebagian kalangan adalah pembekuan Korps Perempuan PMII Putri, melalui voting yang amat panas. Seingatku hanya selisih satu suara. Saat itu Korps PMII Putri dianggap justru menjadi ruang pengkamaran dan ‘karantina’ kader Putri, yang berlawanan dengan prinsip kesetaraan gender, untuk peran yang lebih luas dalam berbagai bidang kehidupan. Begitu argumentasi para pendukung amputasi atas sayap keputrian yang belakangan dianulir kembali

Setelahnya Kongres demi Kongres berlalu, hingga sampai Kongres XX di Balikpapan yang dibuka presiden secara virtual beberapa saat lalu. Kongres bukan hanya ajang kontestasi siapa yang akan terpilih menjadi Ketua Umum, atau tempat para Romli mengekspresikan semangat ‘menderu’ bak supporter bola. Kongres adalah perayaan kaum intelektual organik, yang selalu mengandalkan kemampuan aksi refleksi yang terus menerus.

Kongres adalah ruang mematangkan gagasan besar, menjadi sebentuk gerakan besar dimasa berikutnya.
Kita berharap PMII makin kukuh dengan ide dan kerja besar, kaderisasi terkhusus untuk melahirkan para kader yang menjadikan Ahlussunnah wa jamaah sebagai fikrah dan harakah, tanpa mengabaikan kerja kritis untuk terus berpihak pada nilai keadilan, sikap moderat, seimbang. Tak lupa memastikan energi gerakannya diabdikan untuk penguatan kaum yang terlemahkan (mustadhafin). Hal ini tentu menjadi bagian dari ikhtiar untuk tercapainya tujuan organisasi, sebagaimana termaktub dalam AD ART, “pribadi muslim’ yang menggabungkan kerja spiritual dan intelektual untuk terus merealisasikan ‘cita-cita’ kemerdekaan.

Suatu ide besar, yang hanya bisa dimulai dari langkah-langkah kecil, tentunya. Fakta revolusi 4.0, bonus demografi 2045 adalah sekedar konteks dan tantangan yang tak boleh dilihat dengan sudut pesimisme.
Sambut dunia dengan Satu harapan dan satu cita. Selamat berkongres bagi para kader, selamat merayakan masa bertumbuh. Bersemilah Tunas NU, Tunas PMII.

**Dosen di Unsuri Ponorogo, JAM PMII Ponorogo dan Mantan Sekum PC PMII Tulung Aging

#kongresPMII

What do you think?

742 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0
Masa Depan ditanganmu, Untuk Meneruskan Perjuangan: Refleksi Kongres PMII XX ditengah Covid 19

Masa Depan ditanganmu, Untuk Meneruskan Perjuangan: Refleksi Kongres PMII XX ditengah Covid 19

Koornas JAMPMII Minta Pemerintah Batalkan Kebijakan Import Beras

Koornas JAMPMII Minta Pemerintah Batalkan Kebijakan Import Beras