in

Menjemput Satu Abad NU: Tantangan dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Menjemput Satu Abad NU: Tantangan dan Tanggung Jawab Kebangsaan


Oleh: Hadi M Musa Said**

31 Januari 1926 – 31 Januari 2021, jejak sejarah dan kontribusi NU terhadap bangsa Indonesia begitu luar biasa, terutama dalam menjaga keseimbangan beragama dan berbangsa, serta dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mengawali tulisan ringan ini, saya sedikit bercerita, bahwa menjadi warga NU itu mudah, yang sulit itu menjadi bagian dari Harokah (gerakan) NU. Akhir-akhir ini banyak orang mengaku-aku NU, tidak ada yang salah, dan baik-baik saja sejauh ini, bisa diterima. Mungkin memang sudah waktunya atau mungkin juga sekedar ikut-ikutan, sekedar mengikuti tren.

Hari ini NU begitu populer, dihampir seluruh sudut pelosok negeri, ini bahkan di dunia internasional. NU menjadi perbincangan, -terlepas dari yang dibicarakan plus minusnya-, NU menjadi begitu seksi dan menarik. Setiap orang ingin mendadarnya, dari berbagai sudut ulasan dan pojok bahasan.

Dan sudah seharusnya setiap warga NU memang harus bangga menjadi bagian dari NU. Apalagi bagi yang merasa menjadi kader NU tentunya.

Tidak ketinggalan juga kami yang masih aktif di Gerakan Pemuda Ansor. Acara demi acara diikuti, kaderisasi tak pernah berhenti, walaupun rintangan, gangguan dan bully-an datang silih berganti.
Tak pernah berhenti, tapi dapat kami pastikan bahwa kader GP Ansor dan Banser tak pernah mundur selangkahpun, untuk terus bisa berkhidmat di organisasi NU, Jam’iyyah yang di dirikan oleh Hadratussyeh KH Hasyim As’ary.

Sungguh kami merasa bangga dan bangga sekali, bisa menjadi bagian dari NU, melalui Gerakan Pemuda Ansor. Organisasi wadah, tempat kami beraktivitas dibawah naungan para Ulama, Kyai, Ajengan NU dihampir seluruh pelosok Nusantara, sampai dengan saat ini.

Disinilah tantangan yang tidak mudah bagi NU hari ini dengan popularitas yang kian naik, terlihat dengan membludaknya jamaah dan partisipan, dihampir setiap acara kaderisasi yang diadakan oleh Gerakan Pemuda Ansor. Sebagai Banom dan bagian inti dari kaderisasi di NU , setiap diklat dan pelatihan kepemimpinan di banjiri oleh peserta , bahkan di beberapa daerah peserta rela mengeluarkan dana dari kantong pribadi , untuk keperluan dan kebutuhan rangkaian acara pada diklat tersebut.

Semangat ber-NU nya begitu luar biasa, meski dibawah caci maki dan bully-an yang tidak pernah berhenti.
Kenapa kok bisa begitu..? Karena kami yakin bahwa ber-NU lewat GP Ansor hari ini adalah pilihan paling waras, untuk bisa berkhidmat pada organisasi warisan para Ulama dan Kyai, yang sangat berharga dan bernilai. Lebih dari itu adalah untuk berkhidmat kepada bangsa dan negara Indonesia dalam bingkai kenusantaraan.

Sebenarnya banyak cara lain untuk terus bisa mengamalkan amalan agama kita, tapi dengan bergabung dengan NU tentu ini menjadi nilai lebih. Ini yang tidak mungkin didapatkan di tempat lain. Di sinilah kami menemukan jalan dalam takdir kebaikan yang kami yakini menjadi jalan Tuhan.

Ber-NU dengan Cinta

Selanjutnya kita punya tanggungjawab yang begitu besar dalam melanjutkan perjuangan para ulama kita, supaya terus mampu berkhidmat dalam fungsi keumatan.

Bergabung dan menjadi warga nahdhiyin bukan hanya untuk gagah-gagahan atau sekedar mengikuti tren. Kami semua juga punya tanggunjawab yang begitu besar, yang harus terus dijalankan dengan segala kesabaran dan keikhlasan.

Kita jangan pernah ragu apalagi berfikir untuk mendapatkan keuntungan pribadi, yang harus dikedepankan adalah keistiqomahan kita dalam ber jam’iyyah. Selanjutnya biar Tuhan yang membimbing kita lewat tangan-tangan lembut para ulama, kyai dan ajengan, Tuan Guru kita yang terus tanpa lelah memberikan mauidhoh hasanah, untuk menjaga kita dari kekeliruan jalan.

Sekali lagi jangan hanya bangga menjadi warga NU, tapi giliran ada kegiatan NU ga pernah kelihatan, ga pernah ada, ga pernah mau datang.
Rutinan NU malas bergabung, malas mengikutinya, atau malah pura-pura sibuk.
Nah..! yang begini ini juga banyak, ini yang menjadi persoalan, artinya menjadi kader NU nya hanya setengah-setengah dan tidak serius alias asal-asalan.

Ber-NU itu harus yakin harus dengan cinta, kalau sudah cinta itu beda rasanya. Apalagi sudah gila NU, atau NU gila, pasti akan menyiapkan waktu dengan baik.
Bukannya kalau nanti saya longgar akan aktif, ikut kegiatan NU tahunya ga pernah longgar, ahirnya ga bisa aktif sama sekali, kita harus bisa membagi waktu, bukan sekedar ingin jadi pengurus, tapi ga mau ngurus malah jadi urusan, atau sekedar ndompleng eksis doang di NU.

Yakinlah dengan cinta dan berkhidmat di NU pasti ada keberkahan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Hanya karena Allah kita menjalankan organisasi, dengan segala rupa suka dan dukanya.

Adalagi bahkan yang seringkali mengaku NU, tapi setiap saat malah menyerang NU, Yang begini ada,..? Ada bahkan banyak. Menjelek-jelekan kyai-kyai NU, pimpinan NU, Katanya NU sekarang tidak sesuai dengan NU nya Mbah Hasyim As’ary. NU sekarang sudah liberal, bahkan sesat. Yang begini juga ada, bilangnya saya ikut NU garis lurus, ikut NU garis lonjong, ikut NU garis khittah 1926, ikut NU penggaris, dan lainnya.

NU ya NU ikuti saja. Kyai NU yang ada di mana kita ada, di zaman NU yang sekarang, ada dalam Pengurus Besar Nahdlotul Ulama. Setiap pergantian Pengurus PBNU tentu sudah melalui mekanisme dan takdir nya sendiri.

Setiap pemimpin akan lahir pada zamannya, dan tentu akan menyesuaikan dengan keadaan zamannya. Bukan serta merta kita merasa paling benar, terus menganggap orang lain salah dan terus menyalahkan pengurus NU nya. Mengkritik itu boleh tidak ada yang melarang, bahkan dianjurkan. Tapi merasa benar sendiri, itu yang memicu riak persoalan nantinya.

Sekali lagi ber-NU lah dengan cinta, yakinlah kita akan selamat dengan mengamalkan ajaran-ajaran ahlussunah waljamaah, warisan para Ulama yang begitu mulia, para Wali Allah SWT

Semua sudah digariskan untuk berjuang di wilayah nya masing-masing, dengan segala keahlian dan kemampuannya, tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT

Warga NU sekarang sudah sangat beragam dan tugas kita hari ini bersiap dan menyiapkan dengan segala potensi yang ada di dalamnya. Warga NU ada di berbagai ranah pakar dan keahlian. Warga NU harus melek teknologi, berdakwah dengan segala fasilitas teknologi yang ada, manfaatkan, maksimalkan sebagai bagian dari alat perjuangan dan pengabdian dalam mengembangkan organisasi. Berdayakan semua potensi ini, agar NU menjadi lebih baik lagi, dan lagi.

Ingat tanpa NU kita bukan siapa-siapa, karena NU adalah jalan kebaikan kita dalam perjuangan untuk terus bisa berproses dalam pengabdian.

NU adalah masa depan bangsa Indonesia yang harus kita jaga, dengan segala nilai yang ada di dalamnya, bukan sombong atau mengada-ngada, tanpa NU saya tidak begitu yakin Indonesia akan tetap utuh sampai hari ini.

Ber-NU lah dengan cinta, Insya Allah hidup kita akan lebih baik dan barokah, teruslah berkhidmat untuk kemajuan NU, dan tunjukkanlah dengan bukti nyata, melalui kerja dan karya.

Akhirnya selamat HARLAH NU ke 95 . Semoga kita semua bisa terus mengabdi sampai habis umur kita, dan kita diakui sebagai santrinya Hadratussyeh, Mbah KH Hasyim As’ary dan para pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, wallahu a’lam

Untuk para Pendiri Nahdlatul Ulama Al Fatihah

Cipulus 31 Januari 2021

**Ketua PP GP Ansor,
Koornas JAM PMII, dan
Pendiri STAI Al-Badar Cipulus Purwakarta.

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0
Refleksi Harlah Nahdlatul Ulama ala CEO Alvara Research Center

Refleksi Harlah Nahdlatul Ulama ala CEO Alvara Research Center

Harlah NU ke- 95: Menyelami Hikmah berorganisasi dari KH. Wahab Chasbullah

Harlah NU ke- 95: Menyelami Hikmah berorganisasi dari KH. Wahab Chasbullah